Gangguan pendengaran tidak selalu identik dengan penurunan kemampuan mendengar. Pada sebagian orang, justru terjadi kondisi sebaliknya, yakni telinga menjadi terlalu sensitif terhadap suara. Salah satu gangguan yang termasuk dalam kategori ini adalah hiperakusis. Penyakit telinga hiperakusis dapat membuat suara sehari-hari yang normal terasa sangat menyakitkan dan mengganggu aktivitas penderitanya.
Sebelum mengulas secara lengkap mengenai hiperakusis, kami sebagai pusat alat bantu dengar ingin menyampaikan tawaran spesial kepada Anda yang sedang menghadapi masalah pendengaran. Sebagai penyedia perangkat bantu pendengaran, kami menyajikan produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau. Untuk detail lebih lanjut, silakan kunjungi situs kami di brillianthearing.id.
Hiperakusis sering kali tidak disadari pada tahap awal karena gejalanya dianggap sepele, seperti rasa tidak nyaman saat mendengar suara tertentu. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat berkembang dan berdampak serius pada kesehatan mental maupun kualitas hidup penderitanya.
Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai penyakit telinga hiperakusis, mulai dari pengertian, penyebab, hingga penanganannya, agar Anda dapat lebih waspada dan memahami langkah yang tepat jika mengalami kondisi ini.
Baca Juga: Kenali Kelainan Daun Telinga Mikrotia, Apa Itu?
Pengertian Hiperakusis
Hiperakusis adalah gangguan pendengaran yang menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap suara, bahkan suara dengan intensitas rendah yang umumnya dianggap normal oleh orang lain. Pada penderita hiperakusis, suara sehari-hari seperti percakapan, deru kendaraan, atau bunyi alat rumah tangga dapat terasa sangat keras, menyakitkan, dan mengganggu.
Dalam dunia medis, tingkat keras-lemahnya suara diukur menggunakan satuan desibel (dB). Pada kondisi normal, suara dengan intensitas sekitar 100 dB atau lebih sudah dapat menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri pada telinga. Namun, pada penderita hiperakusis, suara dengan intensitas 16–18 dB saja sudah mampu menimbulkan rasa sakit.
Sebagai perbandingan:
- Suara di ruangan yang sangat sunyi: ±30 dB
- Suara orang berbincang: ±60 dB
- Suara blender atau alat rumah tangga berisik: ±90–94 dB
Bagi penderita hiperakusis, suara-suara tersebut dapat terasa berlebihan dan menyiksa, sehingga aktivitas sehari-hari menjadi sulit dilakukan.
Hiperakusis sebagai Gangguan Persepsi Suara
Perlu dipahami bahwa hiperakusis bukan sekadar telinga yang “manja” atau terlalu sensitif, melainkan gangguan pada persepsi kerasnya suara. Artinya, suara yang sebenarnya biasa saja akan dipersepsikan oleh otak sebagai suara yang jauh lebih keras dari kenyataannya.
Kondisi ini umumnya merupakan gejala dari gangguan medis lain, seperti cedera saraf, gangguan pendengaran tertentu, atau kelainan pada struktur telinga. Oleh karena itu, hiperakusis dapat dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak, dan dapat muncul kapan saja.
Penyebab Penyakit Telinga Hiperakusis
Penyakit telinga hiperakusis tidak terjadi tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya kondisi ini, baik dari faktor lingkungan maupun gangguan kesehatan tertentu. Berikut adalah penyebab hiperakusis yang paling umum.
1. Terpapar Suara Keras Secara Berulang
Paparan suara keras merupakan penyebab utama hiperakusis. Kondisi ini sering dialami oleh orang-orang yang bekerja di lingkungan bising, seperti:
- Musisi dan kru panggung
- Pekerja konstruksi
- Petugas bandara
- Pekerja pabrik
Paparan suara keras dalam jangka panjang dapat merusak sel-sel pendengaran dan sistem saraf yang berperan dalam proses mendengar. Selain itu, mendengar suara dengan intensitas sangat tinggi, terutama di atas 140 dB, seperti ledakan petasan atau klakson kereta dari jarak dekat, juga dapat memicu hiperakusis secara tiba-tiba.
2. Kelainan atau Gangguan pada Struktur Telinga
Kelainan pada bagian telinga juga dapat menjadi penyebab hiperakusis. Beberapa bagian telinga yang berperan penting dalam proses pendengaran antara lain:
- Saluran telinga
- Membran timpani (gendang telinga)
- Tulang pendengaran, khususnya tulang sanggurdi (stapes)
- Rumah siput (koklea)
Jika terjadi perkembangan yang tidak normal atau gangguan pada bagian-bagian tersebut, saraf pendengaran dapat mengirimkan sinyal suara yang keliru ke otak. Akibatnya, otak akan memproses suara sebagai lebih keras dari kondisi sebenarnya, sehingga timbul gejala hiperakusis.
3. Kelumpuhan atau Gangguan Saraf Wajah
Pada beberapa kasus, hiperakusis berkaitan erat dengan gangguan pada saraf wajah, seperti:
- Bell’s palsy
- Cacar api (herpes zoster)
- Penyakit Lyme
Saraf wajah berperan dalam mengontrol otot stapedius, yaitu otot kecil di telinga tengah yang berfungsi untuk mengatur intensitas suara dan melindungi telinga dari suara keras. Jika saraf ini mengalami gangguan, otot stapedius tidak dapat bekerja secara optimal.
Akibatnya, telinga kehilangan kemampuan alami untuk meredam suara keras, sehingga suara normal pun terasa menyakitkan dan memicu hiperakusis.
4. Cedera pada Kepala, Rahang, atau Telinga
Cedera fisik akibat benturan keras juga dapat menjadi penyebab hiperakusis. Cedera pada kepala, rahang, atau telinga dapat mengganggu saraf sensorik yang berhubungan dengan pendengaran di otak.
Gangguan ini dapat menyebabkan perubahan cara otak memproses suara, yang kemudian berkembang menjadi hiperakusis. Cedera akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh, atau benturan olahraga termasuk faktor risiko yang perlu diwaspadai.
Gejala Penyakit Telinga Hiperakusis
Gejala hiperakusis dapat bervariasi pada setiap penderita. Namun, secara umum, beberapa keluhan yang sering dirasakan antara lain:
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di telinga saat mendengar suara
- Telinga berdenging (tinnitus)
- Pusing dan gangguan keseimbangan
- Perasaan penuh atau tertekan di telinga
- Sakit kepala
- Kejang pada kasus tertentu
Gejala-gejala tersebut dapat semakin parah jika penderita terus terpapar suara tanpa penanganan yang tepat.
Dampak Hiperakusis terhadap Kualitas Hidup
Hiperakusis bukan hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada kondisi psikologis penderitanya. Suara yang terus-menerus terasa menyakitkan dapat membuat seseorang:
- Mudah stres dan cemas
- Menghindari interaksi sosial
- Menarik diri dari lingkungan sekitar
- Mengalami gangguan tidur
Jika tidak ditangani dengan benar, hiperakusis dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi, terutama jika penderita merasa tidak dipahami oleh orang di sekitarnya.
Penanganan Penyakit Telinga Hiperakusis
Penanganan hiperakusis bertujuan untuk mengurangi sensitivitas terhadap suara, meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah dampak psikologis jangka panjang. Berikut beberapa metode penanganan yang umum dilakukan.
1. Terapi Kognitif Behavioral (CBT)
Terapi kognitif behavioral atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT) bertujuan untuk membantu pasien mengelola stres, kecemasan, dan reaksi emosional akibat paparan suara keras. Terapi ini membantu penderita mengubah pola pikir negatif terhadap suara sehingga respons emosional dapat lebih terkontrol.
2. Terapi Suara
Terapi suara dilakukan dengan cara memaparkan pasien pada suara secara bertahap, mulai dari intensitas rendah hingga meningkat secara perlahan. Tujuannya adalah melatih sistem pendengaran agar terbiasa dengan suara dan mengurangi respons berlebihan terhadap kebisingan.
3. Terapi Pelatihan Tinnitus (TRT)
Tinnitus Retraining Therapy (TRT) biasanya digunakan pada pasien hiperakusis yang disertai tinnitus. Pasien akan mendengarkan suara dengan frekuensi rendah dalam jangka waktu tertentu untuk membantu proses adaptasi dan pemulihan saraf pendengaran.
4. Operasi
Tindakan operasi dilakukan jika hiperakusis berkaitan dengan kelumpuhan saraf wajah atau gangguan struktural tertentu pada telinga. Operasi bertujuan memperbaiki fungsi saraf atau struktur telinga yang terganggu.
5. Penggunaan Alat Pelindung Pendengaran
Penggunaan penutup telinga atau noise-cancelling headphone dapat membantu mengurangi kebisingan dalam jangka pendek. Namun, cara ini hanya bersifat sementara karena saat alat dilepas, suara akan kembali terdengar keras. Oleh karena itu, alat ini sebaiknya digunakan sebagai pendukung, bukan solusi utama.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada hiperakusis dan keluhan tersebut berlangsung lama atau semakin memburuk, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat melakukan pemeriksaan awal dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup penderita hiperakusis.
Penutup
Penyakit telinga hiperakusis adalah gangguan pendengaran yang membuat penderitanya sangat sensitif terhadap suara normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh paparan suara keras, kelainan struktur telinga, gangguan saraf wajah, maupun cedera. Jika tidak ditangani dengan tepat, hiperakusis dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental.
Dengan penanganan yang sesuai, seperti terapi suara, CBT, hingga perawatan medis lainnya, gejala hiperakusis dapat dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejalanya sejak dini dan tidak ragu untuk mencari bantuan medis.
Jika Anda menghadapi kesulitan pendengaran, kami sebagai pusat alat bantu dengar telah siap memberikan solusi yang optimal untuk Anda. Di Brilliant Hearing, kami menawarkan beragam perangkat pendengaran berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau, seperti Signia Intuis, Audio Service, dan masih banyak lagi. Langkah pertama dalam menjaga kesehatan pendengaran Anda adalah mengunjungi situs web kami dan memilih dari berbagai pilihan terbaik yang kami sediakan.
Baca Juga: Mengatasi Telinga Caplang dengan Otoplasti





