Mikrotia adalah salah satu kelainan bawaan lahir yang tergolong jarang terjadi, namun dapat berdampak besar pada kualitas hidup penderitanya. Kondisi ini ditandai dengan bentuk daun telinga yang tidak normal sejak bayi dilahirkan. Pada sebagian kasus, mikrotia tidak hanya memengaruhi tampilan telinga luar, tetapi juga berhubungan erat dengan gangguan pendengaran yang cukup serius.
Sebelum mengulas secara lengkap mengenai mikrotia, kami sebagai pusat alat bantu dengar ingin menyampaikan tawaran spesial kepada Anda yang sedang menghadapi masalah pendengaran. Sebagai penyedia perangkat bantu pendengaran, kami menyajikan produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau. Untuk detail lebih lanjut, silakan kunjungi situs kami di brillianthearing.id.
Kelainan daun telinga ini terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan, terutama pada masa awal kehamilan. Banyak orang tua baru menyadari kondisi ini setelah bayi lahir, meskipun sebenarnya mikrotia dapat terdeteksi lebih dini melalui pemeriksaan kehamilan, seperti USG. Karena sifatnya bawaan, mikrotia sering menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait tumbuh kembang anak di masa depan.
Lantas, apa sebenarnya mikrotia itu, apa saja jenisnya, faktor penyebabnya, serta bagaimana dampak dan penanganannya? Artikel ini akan mengulas secara lengkap tentang mikrotia agar orang tua dan masyarakat dapat lebih memahami kondisi ini dan tidak terlambat mengambil langkah medis yang tepat.
Baca Juga: Mengatasi Telinga Caplang dengan Otoplasti
Apa Itu Mikrotia?
Mikrotia adalah kelainan kongenital atau bawaan lahir yang menyebabkan bayi terlahir dengan bentuk daun telinga yang tidak normal. Dalam bahasa medis, mikrotia merujuk pada kondisi telinga luar yang berukuran lebih kecil, tidak terbentuk sempurna, atau bahkan tidak terbentuk sama sekali.
Pada kasus tertentu, mikrotia tidak hanya memengaruhi daun telinga, tetapi juga liang telinga. Bahkan, ada bayi yang terlahir tanpa daun telinga dan lubang telinga sama sekali. Kondisi ini dapat terjadi pada salah satu telinga (mikrotia unilateral) maupun pada kedua telinga (mikrotia bilateral).
Sebagian besar penderita mikrotia mengalami gangguan pendengaran, terutama jenis tuli konduktif. Hal ini disebabkan oleh gangguan pada struktur telinga luar yang berfungsi menghantarkan suara menuju telinga tengah dan telinga dalam.
Jenis-Jenis Mikrotia Berdasarkan Tingkat Keparahan
Penyakit mikrotia terjadi sejak bayi masih dalam kandungan, terutama pada trimester pertama kehamilan. Pada fase ini, pembentukan organ-organ penting, termasuk telinga, sedang berlangsung. Untuk mengetahui kondisi telinga janin, dokter dapat melakukan pemeriksaan USG kehamilan secara rutin.
Secara medis, mikrotia dibagi menjadi empat tipe berdasarkan tingkat keparahannya. Semakin tinggi tipenya, semakin berat kondisi yang dialami bayi.
1. Mikrotia Tipe 1
Pada tipe ini, bentuk daun telinga dan liang telinga masih terlihat normal, tetapi ukurannya lebih kecil dibandingkan telinga normal. Gangguan pendengaran pada tipe ini biasanya ringan atau bahkan tidak ada sama sekali.
2. Mikrotia Tipe 2
Sebagian struktur daun telinga tidak terbentuk sempurna dan lubang telinga terlihat sangat sempit. Kondisi ini mulai berisiko menyebabkan gangguan pendengaran karena suara sulit masuk dengan optimal ke telinga tengah.
3. Mikrotia Tipe 3
Daun telinga berbentuk menyerupai kacang dan tidak terdapat lubang telinga. Pada tipe ini, penderita hampir pasti mengalami gangguan pendengaran yang cukup berat karena jalur masuk suara terhambat sepenuhnya.
4. Mikrotia Tipe 4 (Anotia)
Ini merupakan kondisi paling parah, di mana bayi tidak memiliki telinga bagian luar sama sekali, termasuk daun telinga dan liang telinga. Kondisi ini disebut anotia dan hampir selalu disertai gangguan pendengaran berat.
Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Mikrotia
Hingga saat ini, penyebab pasti mikrotia belum sepenuhnya diketahui. Namun, kondisi ini diyakini berkaitan erat dengan kelainan atau mutasi genetik yang terjadi pada janin saat dalam kandungan. Menariknya, mikrotia tetap bisa terjadi meskipun kedua orang tua tidak memiliki riwayat kelainan genetik.
Selain faktor genetik, mikrotia juga sering dikaitkan dengan beberapa sindrom bawaan yang memengaruhi perkembangan wajah, antara lain:
- Sindrom Goldenhar, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan gangguan pembentukan telinga, hidung, bibir, dan rahang.
- Sindrom Treacher Collins, yang memengaruhi bentuk tulang pipi, rahang, dan dagu.
- Hemifacial Microsomia, yaitu kondisi di mana salah satu sisi wajah bagian bawah tidak berkembang secara normal.
Tak hanya itu, ada pula beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan mikrotia, terutama yang berkaitan dengan kondisi ibu selama kehamilan, seperti:
- Ibu menderita diabetes
- Terinfeksi rubella pada trimester pertama kehamilan
- Kekurangan gizi, khususnya asam folat dan karbohidrat
- Konsumsi minuman beralkohol selama kehamilan
- Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti thalidomide dan isotretinoin
Dampak Mikrotia terhadap Pendengaran dan Psikologis Anak
Karena struktur telinga tidak terbentuk sempurna, penderita mikrotia sangat rentan mengalami gangguan pendengaran. Suara tidak dapat dihantarkan dengan baik ke telinga tengah dan telinga dalam, sehingga muncul kondisi yang disebut tuli konduktif.
Semakin berat tingkat mikrotia, semakin besar pula gangguan pendengaran yang dialami. Jika tidak ditangani sejak dini, gangguan pendengaran ini dapat berdampak serius terhadap kemampuan bicara dan bahasa anak. Anak bisa mengalami keterlambatan bicara, kesulitan belajar, hingga hambatan dalam interaksi sosial.
Selain dampak fisik, mikrotia juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Bentuk telinga yang berbeda sering membuat anak merasa minder, malu, dan menarik diri dari pergaulan. Oleh karena itu, dukungan orang tua dan keluarga memegang peran penting agar anak tetap memiliki rasa percaya diri dan menerima kondisi dirinya dengan baik.
Penanganan dan Pengobatan Mikrotia
Penanganan mikrotia sangat bergantung pada tingkat keparahan kondisi dan ada tidaknya gangguan pendengaran. Pada kasus ringan tanpa gangguan fungsi pendengaran, tindakan medis mungkin tidak diperlukan.
Namun, bila mikrotia cukup parah dan memengaruhi kemampuan mendengar, dokter spesialis THT akan merekomendasikan beberapa opsi penanganan, antara lain:
1. Cangkok Daun Telinga
Prosedur ini dilakukan dengan mengambil tulang rawan dari tulang rusuk pasien, kemudian dibentuk menyerupai daun telinga. Daun telinga buatan tersebut dicangkokkan ke area telinga yang mengalami kelainan. Umumnya, prosedur ini baru dilakukan setelah anak berusia di atas 6 tahun.
2. Pemasangan Telinga Prostetik
Metode ini menggunakan telinga palsu berbahan prostetik yang ditempelkan dengan perekat medis atau sekrup khusus. Pemasangan telinga prostetik menjadi alternatif bagi pasien yang tidak memungkinkan menjalani prosedur cangkok atau bila cangkok tidak berhasil.
3. Implan Alat Bantu Dengar
Untuk memperbaiki fungsi pendengaran, dokter akan melakukan tes pendengaran terlebih dahulu. Jika gangguan pendengaran tergolong berat, pemasangan implan alat bantu dengar dapat menjadi solusi efektif agar anak tetap bisa mendengar dengan baik.
Pentingnya Deteksi Dini Mikrotia
Anak yang terlahir dengan mikrotia tetap memiliki peluang besar untuk tumbuh sehat dan menjalani kehidupan yang normal. Namun, kunci utamanya adalah deteksi dan penanganan sejak dini.
Jika penanganan terlambat, anak berisiko mengalami gangguan belajar, keterlambatan bicara, dan hambatan tumbuh kembang. Oleh karena itu, bayi dengan mikrotia perlu segera diperiksakan ke dokter spesialis THT agar kondisi pendengaran dan struktur telinga dapat dievaluasi secara menyeluruh.
Semakin cepat mikrotia terdeteksi dan ditangani, semakin besar pula peluang anak untuk memiliki kemampuan pendengaran yang optimal serta tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya.
Kesimpulan
Mikrotia adalah kelainan bawaan pada daun telinga yang dapat memengaruhi bentuk telinga dan fungsi pendengaran bayi. Kondisi ini memiliki berbagai tingkat keparahan, mulai dari ringan hingga sangat berat seperti anotia. Penyebabnya berkaitan dengan faktor genetik dan kondisi ibu selama kehamilan.
Meski terdengar mengkhawatirkan, mikrotia bukanlah akhir dari segalanya. Dengan penanganan medis yang tepat dan dukungan penuh dari keluarga, anak dengan mikrotia tetap dapat tumbuh sehat, percaya diri, dan menjalani kehidupan yang normal. Pemeriksaan dini ke dokter spesialis THT menjadi langkah penting untuk memastikan masa depan anak tetap optimal.
Jika Anda menghadapi kesulitan pendengaran, kami sebagai pusat alat bantu dengar telah siap memberikan solusi yang optimal untuk Anda. Di Brilliant Hearing, kami menawarkan beragam perangkat pendengaran berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau, seperti Signia Intuis, Audio Service, dan masih banyak lagi. Langkah pertama dalam menjaga kesehatan pendengaran Anda adalah mengunjungi situs web kami dan memilih dari berbagai pilihan terbaik yang kami sediakan.
Baca Juga: Sakit di Belakang Telinga, Cek Penyebab dan Cara Mengatasinya Secara Tepat!





