Search
Close this search box.

Ada 8 Jenis Tes Audiometri, Apa Fungsinya?

jenis tes Audiometri

Informasi lengkap jenis tes Audiometri beserta fungsinya. Tes Audiometri adalah suatu teknik pengujian yang digunakan untuk mengukur kemampuan pendengaran seseorang. Dalam audiometri, berbagai jenis suara atau bunyi diberikan kepada individu yang diuji, yang kemudian diminta untuk memberikan respons, seperti menekan tombol atau mengangkat tangan, ketika mereka mendengar suara tersebut. Informasi yang diperoleh dari audiometri membantu dalam mengevaluasi tingkat pendengaran seseorang dan mendeteksi gangguan pendengaran jika ada.

Sebelum kami memasuki pembahasan mengenai jenis tes Audiometri, kami ingin mempersembahkan produk jual alat bantu dengar kami kepada mereka yang mungkin mengalami masalah pendengaran. Produk-produk kami menonjol dalam kualitasnya dan dijamin memberikan kinerja optimal. Jika Anda tertarik, silakan kunjungi situs web kami di brillianthearing.id untuk mendapatkan detail lebih lanjut.

Ada beberapa jenis tes Audiometri untuk mengukur tingkat pendengaran seseorang. Lalu apa saja jenis tes tersebut? Artikel ini mengulas informasi penting seputar Jenis tes Audiometri yang diulas lengkap beserta penjelasan dan fungsinya.

Jenis Tes Audiometri

1. Pure-tone audiometry

Audiometri nada murni telah menjadi standar emas dalam evaluasi sensitivitas pendengaran sejak lama. Dalam praktiknya, prosedur ini tidak hanya memberikan informasi tentang tingkat gangguan pendengaran seseorang tetapi juga membantu mengidentifikasi penyebabnya. Dengan menggunakan teknik audiometri nada murni, profesional kesehatan dapat menentukan ambang pendengaran individu pada berbagai frekuensi.

Perangkat audiometer nada murni memiliki kisaran yang luas, mulai dari perangkat sederhana yang terjangkau hingga audiometer diagnostik yang canggih dan mahal. Meskipun beragam dalam kompleksitas dan biaya, tujuan utamanya tetap sama: mengukur ambang pendengaran seseorang. Dalam pengujian ini, berbagai nada murni disajikan melalui earphone ke telinga subjek, dan intensitas terendah di mana subjek dapat merasakan nada tersebut dengan jelas pada 50% waktu diukur dalam desibel (dB). Ambang pendengaran ini, yang juga dikenal sebagai ‘ambang batas’, mencerminkan sensitivitas pendengaran individu.

Hasil dari pengujian audiometri nada murni direkam dalam bentuk grafik yang dikenal sebagai audiogram. Audiogram menggambarkan ambang pendengaran subjek pada berbagai frekuensi yang diuji, yang biasanya berkisar antara 250 hingga 8000 Hz. Dengan melihat pola audiogram, profesional kesehatan dapat menafsirkan tingkat gangguan pendengaran seseorang dan merencanakan intervensi atau penanganan yang sesuai.

2. Speech audiometry

Audiometri wicara bertujuan untuk memberikan evaluasi menyeluruh terhadap integritas sistem pendengaran seseorang dengan fokus pada kemampuan mereka untuk mendengar dan memahami ucapan. Ini adalah metode penting dalam mengidentifikasi gangguan pendengaran tipe saraf, yang melibatkan kerusakan pada saraf pendengaran atau bagian pusat sistem pendengaran.

Dalam audiometri wicara, terdapat dua jenis tes utama: tes diskriminasi ucapan dan tes ambang batas penerimaan ucapan. Kedua tes ini bertujuan untuk menentukan intensitas desibel terendah di mana seorang individu dapat mengulangi kata-kata dengan benar pada tingkat yang dapat diterima secara klinis.

Keduanya tes ini memberikan informasi berharga kepada profesional medis tentang kemampuan pendengaran seseorang dan membantu dalam merencanakan intervensi atau penanganan yang sesuai, terutama dalam kasus gangguan pendengaran yang berkaitan dengan saraf pendengaran. Dengan demikian, audiometri wicara menjadi instrumen penting dalam diagnosis dan penanganan gangguan pendengaran.

3. Suprathreshold audiometry

Perekrutan merujuk pada fenomena di mana seseorang yang menderita gangguan pendengaran pada kedua telinga mengalami peningkatan yang signifikan dalam kenyaringan suara yang dirasakan sebagai respons terhadap peningkatan kecil dalam intensitas suara. Ini sering kali terjadi pada individu dengan kerusakan koklea atau gangguan pendengaran sensorineural.

Tes deteksi perekrutan adalah bagian dari audiometri suprathreshold. Audiometri suprathreshold merupakan pengujian yang dilakukan pada tingkat intensitas suara di atas ambang pendengaran biasa. Dalam konteks deteksi perekrutan, audiometri ini membantu mengidentifikasi apakah seseorang mengalami fenomena perekrutan dan seberapa signifikan perubahan kenyaringan yang terjadi pada tingkat intensitas yang lebih tinggi.

Pada tingkat percakapan sehari-hari, tes deteksi perekrutan memungkinkan evaluasi apakah seseorang mampu mengenali dan memahami ucapan secara akurat pada intensitas suara yang berbeda. Hal ini penting karena perubahan dalam kenyaringan suara yang terkait dengan perekrutan dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berinteraksi dalam situasi sosial dan komunikatif.

Selain itu, tes ini juga memberikan informasi berharga tentang manfaat potensial bagi pasien yang menggunakan alat bantu dengar. Dengan mengukur respons terhadap peningkatan intensitas suara, profesional kesehatan dapat menentukan seberapa efektif alat bantu dengar dalam meningkatkan kenyaringan dan kualitas pendengaran seseorang yang mengalami perekrutan.

Secara keseluruhan, tes deteksi perekrutan dalam audiometri suprathreshold memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kondisi pendengaran seseorang, membantu dalam penentuan perawatan yang sesuai, dan memastikan pasien mendapatkan manfaat maksimal dari perawatan pendengaran yang diberikan.

4. Self-recording audiometry

Audiometri Bekesy, yang juga dikenal sebagai audiometri rekaman sendiri, pertama kali diperkenalkan oleh George von Bekesy pada tahun 1947. Dalam metode tes pendengaran ini, perubahan dalam intensitas dan frekuensi dilakukan secara otomatis melalui penggunaan motor.

Perubahan frekuensi dapat dilakukan baik maju maupun mundur. Audiometri ini menggunakan attenuator rekaman untuk mengatur intensitas sinyal dengan tingkat desibel per detik yang tetap. Pengendalian attenuator dapat dilakukan oleh subjek yang sedang diuji.

5. Impedance audiometry

Audiometri impedansi adalah teknik penting dalam mengevaluasi mobilitas dan tekanan udara di dalam sistem telinga tengah, serta mengukur respons refleks telinga tengah. Melalui penggunaan metode ini, informasi yang berharga dapat diperoleh tentang kondisi fisiologis telinga tengah yang mendasari.

Pengukuran mobilitas telinga tengah melibatkan pengujian bagaimana gendang telinga bereaksi terhadap variasi tekanan udara yang diberikan melalui saluran telinga. Dengan merekam respons gendang telinga terhadap perubahan tekanan ini, audiometri impedansi membantu dalam menilai fungsi normal atau gangguan pada telinga tengah, seperti adanya sumbatan atau peradangan.

Selain itu, tes refleks telinga tengah memberikan informasi tambahan tentang respons otomatis telinga tengah terhadap suara. Refleks telinga tengah adalah respons tubuh yang terjadi secara otomatis ketika terjadi suara yang keras, yang melibatkan kontraksi otot-otot telinga tengah untuk melindungi telinga dari kerusakan yang mungkin disebabkan oleh suara yang berlebihan.

6. Computer-administered (microprocessor) audiometry

Pada tahun 1975, audiometer mikroprosesor komersial pertama kali diperkenalkan ke pasar. Instrumen ini, yang terdiri dari teknologi mikroprosesor yang canggih, sering kali dilengkapi dengan keypad multifungsi yang memungkinkan pengaturan yang lebih mudah dan presisi yang lebih tinggi. Dibandingkan dengan audiometer manual tradisional atau rekaman mandiri, audiometer mikroprosesor menawarkan sejumlah keunggulan yang signifikan.

Salah satu keunggulan utama dari audiometer mikroprosesor adalah kemampuannya untuk memberikan kontrol yang lebih baik dan lebih cepat atas pengaturan dan pengujian. Dengan keypad multifungsi, pengguna dapat dengan mudah menyesuaikan parameter audiometri seperti frekuensi, intensitas suara, dan mode pengujian dengan cepat dan akurat. Hal ini memungkinkan proses pengujian menjadi lebih efisien dan memberikan hasil yang lebih konsisten.

Selain itu, audiometer mikroprosesor sering kali dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan seperti penyimpanan data pasien, kemampuan untuk mencetak laporan hasil pengujian, dan koneksi ke perangkat lunak komputer untuk analisis lebih lanjut. Ini memungkinkan praktisi medis untuk melacak perkembangan pasien dari waktu ke waktu dan membuat keputusan yang lebih informasional tentang diagnosis dan pengobatan.

7. Subjective audiometry

Audiometri subyektif merupakan metode pengujian pendengaran di mana subjek yang diuji diminta memberikan respons langsung ketika mereka mendengar suara yang disajikan. Dalam tes ini, rangsangan akustik diberikan kepada subjek dengan cara yang teratur dan sistematis, sementara respons mereka dicatat dan dievaluasi oleh profesional kesehatan.

Proses audiometri subyektif melibatkan presentasi berbagai frekuensi suara pada intensitas yang berbeda kepada subjek. Subjek kemudian diminta untuk menanggapi dengan cara tertentu ketika mereka mendengar suara tersebut, seperti menekan tombol atau mengangkat tangan. Respons subjek dicatat oleh pengawas atau perangkat rekam, dan data ini kemudian dianalisis untuk menentukan ambang pendengaran subjek pada berbagai frekuensi.

Metode ini memberikan informasi yang berharga tentang kemampuan pendengaran subjek secara langsung dan dapat digunakan untuk mendiagnosis berbagai gangguan pendengaran, seperti ketulian atau gangguan pendengaran sensorineural. Audiometri subyektif juga memungkinkan penyesuaian pengujian sesuai dengan kebutuhan individu dan memberikan hasil yang akurat dalam mengevaluasi fungsi pendengaran seseorang.

8. Objective audiometry

Audiometri objektif merupakan suatu teknik pengujian pendengaran yang tidak mengandalkan respons subjek yang diuji. Sebaliknya, dalam tes ini, subjek diminta untuk tetap tenang atau bekerja sama selama proses pemasangan elektroda atau probe yang digunakan untuk melakukan pengukuran secara objektif.

Dalam audiometri objektif, berbagai stimulus auditif, seperti suara klik atau ton, disajikan kepada subjek. Respons fisiologis yang timbul dari sistem pendengaran subjek, seperti respon otot, perubahan dalam aktivitas saraf, atau potensi listrik yang dihasilkan oleh telinga dalam merespons stimulus tersebut, dicatat dan dianalisis.

Teknik ini memberikan informasi objektif tentang fungsi pendengaran subjek, tanpa memerlukan partisipasi aktif dalam bentuk respons verbal atau motorik. Hal ini memungkinkan untuk evaluasi pendengaran pada individu yang tidak dapat memberikan respons secara konvensional, seperti bayi, anak-anak kecil, atau individu dengan gangguan kognitif.

Itulah 8 jenis tes Audometri beserta penjelasan lengkap dan fungsinya. Setiap jenis tes audiometri memiliki tujuan dan aplikasi khusus dalam mengevaluasi kemampuan pendengaran seseorang. Dengan menggunakan kombinasi tes-tetapi dapat memberikan informasi yang komprehensif tentang kondisi pendengaran individu.

Jika Anda mengalami masalah pendengaran, kami menyediakan solusi terbaik melalui jual alat bantu dengar berkualitas tinggi. Produk-produk kami menjamin kualitasnya dan tersedia dengan harga yang sangat bersaing. Kunjungi situs web Brilliant Hearing segera untuk memperoleh informasi lebih lanjut dan lakukan langkah investasi untuk kesehatan pendengaran Anda dengan opsi terbaik yang kami tawarkan.

Bagikan :

Produk Kami

Artikel Lainnya

Brillianthearing.id
Share to Friend/Family:
©️ Brilliant Hearing 2024
Kami Siap Membantu!