Skrining pendengaran anak menjadi langkah penting yang sering kali masih diabaikan oleh banyak orang tua. Padahal, kemampuan mendengar memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anak, terutama dalam kemampuan berbicara, belajar, hingga bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
Sebelum mengulas secara lengkap, kami sebagai pusat alat bantu dengar ingin menyampaikan tawaran spesial kepada Anda yang sedang menghadapi masalah pendengaran. Sebagai penyedia perangkat bantu pendengaran, kami menyajikan produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau. Untuk detail lebih lanjut, silakan kunjungi situs kami di brillianthearing.id.
Saat gangguan pendengaran tidak terdeteksi sejak dini, anak berisiko mengalami keterlambatan perkembangan bahasa dan komunikasi. Karena itu, pemeriksaan atau skrining pendengaran sejak bayi lahir sangat dianjurkan agar masalah dapat diketahui lebih cepat.
Kini, skrining pendengaran anak sudah dapat dilakukan sejak usia bayi baru dua hari. Pemeriksaan ini menjadi salah satu cara efektif untuk memastikan fungsi pendengaran berjalan normal sehingga kualitas hidup anak tetap terjaga sejak awal kehidupannya.
Baca Juga: Pilihan Alat Bantu Dengar Terkecil / Transparan Paling Banyak Dicari
Apa Itu Skrining Pendengaran Anak?
Skrining pendengaran anak adalah pemeriksaan awal untuk mengetahui apakah bayi atau anak memiliki gangguan pendengaran. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan menggunakan alat khusus yang mampu mendeteksi respons telinga maupun otak terhadap suara.
Dilansir dari Antara, menurut dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana, dr. Fikry Hamdan Yasin, SP.THTBKL, Subsp.K.(K), skrining pendengaran sangat penting dilakukan sejak dini untuk menjaga kualitas hidup anak dan mendukung kemampuan komunikasinya.
Gangguan pendengaran yang terlambat diketahui dapat memengaruhi perkembangan bicara, kemampuan belajar, hingga interaksi sosial anak di masa depan. Oleh sebab itu, deteksi dini menjadi langkah yang sangat penting.
Mengapa Skrining Pendengaran Penting Dilakukan Sejak Dini?
Pendengaran merupakan salah satu indra utama yang membantu anak mengenali lingkungan sekitar. Bayi mulai belajar berbicara melalui suara yang mereka dengar setiap hari, termasuk suara orang tua, musik, maupun percakapan sederhana.
Jika fungsi pendengaran terganggu, proses belajar bahasa juga akan ikut terganggu. Anak mungkin mengalami keterlambatan bicara, sulit memahami instruksi, hingga kesulitan bersosialisasi dengan teman sebaya.
Selain itu, gangguan pendengaran yang tidak ditangani juga dapat berdampak pada kondisi psikologis anak. Mereka bisa merasa kurang percaya diri, mudah frustrasi, dan kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah.
Karena itulah skrining pendengaran anak sejak lahir menjadi langkah penting agar dokter dapat segera memberikan penanganan jika ditemukan masalah pada sistem pendengaran.
Kapan Skrining Pendengaran Anak Bisa Dilakukan?
Banyak orang tua berpikir bahwa pemeriksaan pendengaran hanya dilakukan ketika anak sudah besar atau mulai sekolah. Padahal, skrining pendengaran sudah bisa dilakukan sejak bayi berusia dua hari setelah lahir.
Pemeriksaan ini biasanya tersedia di rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang memiliki layanan THT dan kesehatan anak. Skrining dilakukan secara cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit sehingga aman untuk bayi baru lahir.
Dokter akan memantau hasil pemeriksaan secara bertahap hingga usia enam bulan apabila ditemukan indikasi gangguan pendengaran. Dengan begitu, diagnosis dapat dilakukan secara lebih akurat.
Jenis Skrining Pendengaran Anak
Dalam pemeriksaan pendengaran anak, terdapat dua metode yang umum digunakan, yaitu OAE dan BERA. Kedua pemeriksaan ini memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi.
OAE (Otoacoustic Emissions)
OAE atau Otoacoustic Emissions merupakan jenis skrining pendengaran yang paling sering ditemukan di fasilitas kesehatan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengecek fungsi sel rambut pada koklea atau rumah siput di telinga bagian dalam.
Cara kerjanya cukup sederhana. Alat kecil akan dimasukkan ke telinga bayi untuk mengukur respons suara dari koklea. Pemeriksaan ini berlangsung singkat dan bayi biasanya tetap tenang selama proses berlangsung.
Hasil pemeriksaan OAE akan menunjukkan status “pass” atau “refer”.
- Pass berarti tidak ditemukan indikasi masalah pendengaran.
- Refer berarti terdapat kemungkinan gangguan sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, hasil “refer” tidak selalu berarti anak mengalami tuli atau gangguan permanen. Kadang-kadang hasil tersebut dipengaruhi oleh cairan di telinga, kondisi bayi yang kurang tenang, atau faktor lainnya.
Karena itu, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan ulang untuk memastikan kondisi pendengaran anak.
BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry)
Selain OAE, terdapat pemeriksaan lain bernama BERA atau Brainstem Evoked Response Audiometry. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur respons listrik otak terhadap suara.
BERA membantu dokter mengetahui ambang pendengaran bayi dan memastikan apakah terdapat gangguan pada jalur saraf pendengaran menuju otak.
Pemeriksaan ini umumnya dilakukan ketika hasil OAE menunjukkan “refer” atau ketika bayi memiliki faktor risiko gangguan pendengaran tertentu.
Dibandingkan OAE, pemeriksaan BERA dapat memberikan hasil yang lebih detail terkait kemampuan mendengar anak. Karena itu, metode ini sangat penting dalam proses diagnosis gangguan pendengaran sejak dini.
Memahami Hasil “Pass” dan “Refer”
Banyak orang tua merasa panik ketika hasil skrining menunjukkan kata “refer”. Padahal, hasil tersebut belum tentu menandakan anak mengalami tuli permanen.
Hasil “pass” menunjukkan bahwa fungsi pendengaran bayi berada dalam kondisi baik pada saat pemeriksaan dilakukan. Sementara itu, hasil “refer” berarti bayi perlu menjalani evaluasi atau pemeriksaan tambahan.
Beberapa faktor dapat memengaruhi hasil skrining, seperti adanya cairan ketuban di telinga, bayi terlalu aktif, atau kondisi alat pemeriksaan.
Karena itu, dokter biasanya akan melakukan pemantauan ulang sesuai tahapan tertentu agar diagnosis menjadi lebih akurat.
Mengenal Tahapan 1-3-6 dalam Skrining Pendengaran
Dalam skrining pendengaran anak, terdapat konsep penting yang dikenal dengan istilah tahapan “1-3-6”. Tahapan ini membantu proses deteksi dan penanganan gangguan pendengaran secara optimal.
1 Bulan: Skrining Awal
Pada usia satu bulan pertama, bayi sebaiknya sudah menjalani skrining pendengaran awal. Tahap ini bertujuan mendeteksi kemungkinan adanya masalah pendengaran sejak dini.
Jika hasil menunjukkan “refer”, dokter akan menjadwalkan pemeriksaan ulang atau tes lanjutan.
3 Bulan: Diagnosis Lanjutan
Ketika bayi berusia sekitar tiga bulan, dokter biasanya mulai melakukan evaluasi lebih mendalam apabila ditemukan indikasi gangguan pada pemeriksaan sebelumnya.
Pada tahap ini, dokter dapat menggunakan pemeriksaan BERA untuk memastikan kondisi pendengaran bayi.
6 Bulan: Penanganan dan Rehabilitasi
Saat bayi mencapai usia enam bulan, dokter baru dapat memastikan apakah anak benar-benar mengalami gangguan pendengaran bawaan atau tidak.
Jika gangguan terdeteksi, maka rehabilitasi dapat segera dilakukan. Penanganan dini sangat penting agar kemampuan komunikasi dan perkembangan anak tetap optimal.
Rehabilitasi untuk Anak dengan Gangguan Pendengaran
Gangguan pendengaran bukan berarti anak tidak dapat berkembang dengan baik. Dengan penanganan yang tepat sejak dini, anak tetap dapat memiliki kualitas hidup yang baik.
Berikut beberapa bentuk rehabilitasi yang umum dilakukan:
1. Auditory Verbal Therapy (AVT)
Terapi ini membantu anak belajar mendengar dan berbicara melalui stimulasi suara secara intensif. Anak akan dilatih mengenali berbagai bunyi dan memahami percakapan sehari-hari.
2. Penggunaan Alat Bantu Dengar
Alat bantu dengar membantu memperkuat suara agar lebih mudah diterima oleh telinga anak. Penggunaan alat ini disesuaikan dengan tingkat gangguan pendengaran yang dialami.
3. Implan Koklea
Untuk gangguan pendengaran berat, dokter dapat merekomendasikan implan koklea. Alat ini bekerja dengan merangsang saraf pendengaran secara langsung sehingga anak dapat mendengar suara dengan lebih baik.
Faktor Risiko Gangguan Pendengaran pada Anak
Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran pada bayi dan anak, antara lain:
- Riwayat gangguan pendengaran dalam keluarga
- Infeksi selama kehamilan
- Bayi lahir prematur
- Berat badan lahir rendah
- Paparan suara keras
- Infeksi telinga berulang
- Penggunaan obat tertentu
Apabila anak memiliki faktor risiko tersebut, orang tua disarankan lebih rutin melakukan pemeriksaan pendengaran.
Dampak Gangguan Pendengaran Jika Tidak Ditangani
Gangguan pendengaran yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan berbagai masalah serius pada anak.
Beberapa dampak yang mungkin terjadi meliputi:
- Keterlambatan bicara dan bahasa
- Kesulitan belajar
- Gangguan perkembangan sosial
- Menurunnya rasa percaya diri
- Kesulitan memahami instruksi
- Hambatan komunikasi dengan keluarga dan teman
Karena itu, deteksi dini melalui skrining pendengaran anak menjadi langkah penting untuk mencegah dampak jangka panjang.
Pentingnya Kesadaran Orang Tua terhadap Kesehatan Pendengaran Anak
Masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pemeriksaan pendengaran sejak bayi lahir. Padahal, semakin cepat masalah diketahui, semakin besar peluang anak mendapatkan penanganan optimal.
Orang tua juga perlu memperhatikan tanda-tanda gangguan pendengaran, seperti:
- Anak tidak merespons suara keras
- Terlambat bicara
- Sering meminta pengulangan saat berbicara
- Tidak menoleh ketika dipanggil
- Volume televisi terlalu keras
Jika menemukan tanda tersebut, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter THT untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Data Gangguan Pendengaran di Indonesia
Masalah gangguan pendengaran masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga 31 Desember 2025, sebanyak 18,6 juta orang usia tujuh tahun ke atas telah mengikuti skrining pendengaran.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1,8 persen diketahui memiliki gangguan kesehatan pada telinga.
Sementara itu, data Riskesdas 2013 juga menunjukkan bahwa sekitar 3 dari 100 orang di Indonesia mengalami gangguan telinga. Data ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kesehatan pendengaran memang perlu terus ditingkatkan.
Tema Hari Pendengaran Sedunia 2026
Pentingnya skrining pendengaran anak juga sejalan dengan tema Hari Pendengaran Sedunia 2026 yaitu “From communities to classrooms: hearing care for all children” atau “Dari komunitas ke kelas: layanan pendengaran untuk semua anak”.
Tema ini menekankan bahwa setiap anak berhak mendapatkan layanan kesehatan pendengaran yang baik agar mampu tumbuh, belajar, dan berinteraksi secara optimal.
Pemeriksaan sejak dini menjadi bagian penting untuk mewujudkan generasi anak yang sehat dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Penutup
Skrining pendengaran anak merupakan langkah penting yang sebaiknya tidak dilewatkan oleh orang tua. Pemeriksaan ini bahkan sudah dapat dilakukan sejak bayi baru lahir untuk mendeteksi kemungkinan gangguan pendengaran sedini mungkin.
Dengan adanya pemeriksaan OAE dan BERA, dokter dapat memantau kondisi pendengaran anak secara lebih akurat. Jika ditemukan masalah, penanganan dan rehabilitasi dini dapat membantu anak tetap berkembang secara optimal.
Kesadaran orang tua terhadap pentingnya kesehatan pendengaran akan sangat berpengaruh pada masa depan anak. Oleh karena itu, jangan ragu melakukan skrining pendengaran sejak dini demi menjaga kualitas hidup dan tumbuh kembang si kecil.
Jika Anda menghadapi kesulitan pendengaran, kami sebagai pusat alat bantu dengar telah siap memberikan solusi yang optimal untuk Anda. Di Brilliant Hearing, kami menawarkan beragam perangkat pendengaran berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau, seperti Signia Intuis, Audio Service, dan masih banyak lagi. Langkah pertama dalam menjaga kesehatan pendengaran Anda adalah mengunjungi situs web kami dan memilih dari berbagai pilihan terbaik yang kami sediakan.
Baca Juga: Gejala Penting yang Menunjukkan Anda Butuh Alat Bantu Dengar





