Perikondritis adalah salah satu gangguan kesehatan telinga yang sering kali luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa cukup serius jika tidak ditangani dengan tepat. Kondisi ini berupa infeksi pada jaringan di sekitar tulang rawan telinga bagian luar, yang dikenal dengan sebutan perikondrium. Jaringan perikondrium memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tulang rawan, karena berfungsi menyalurkan nutrisi sekaligus melindungi struktur tulang rawan telinga dari kerusakan.
Sebelum mengulas secara lengkap mengenai perikondritis, kami sebagai pusat alat bantu dengar ingin menyampaikan tawaran spesial kepada Anda yang sedang menghadapi masalah pendengaran. Sebagai penyedia perangkat bantu pendengaran, kami menyajikan produk berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau. Untuk detail lebih lanjut, silakan kunjungi situs kami di brillianthearing.id.
Pada tahap awal, perikondritis mungkin hanya menimbulkan keluhan ringan seperti nyeri dan kemerahan pada daun telinga. Namun, apabila infeksi terus berlanjut tanpa penanganan yang memadai, perikondritis dapat menyebabkan kerusakan permanen pada bentuk telinga. Salah satu komplikasi yang paling ditakuti adalah perubahan bentuk telinga menjadi menyerupai bunga kol atau yang dikenal sebagai cauliflower ear.
Perikondritis lebih sering terjadi pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti penderita diabetes atau individu dengan daya tahan tubuh yang lemah. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu perikondritis, apa saja penyebabnya, gejala yang perlu diwaspadai, serta cara mengatasinya agar kondisi ini tidak berkembang menjadi lebih parah.
Baca Juga: Inilah Penyebab Telinga Gatal yang Sering Orang Tidak Sadari
Apa Itu Perikondritis?
Perikondritis adalah infeksi yang menyerang perikondrium, yaitu jaringan ikat yang menyelubungi tulang rawan telinga luar. Berbeda dengan jaringan lunak lainnya, tulang rawan tidak memiliki pembuluh darah sendiri. Oleh sebab itu, nutrisi dan oksigen untuk tulang rawan sepenuhnya bergantung pada perikondrium. Ketika jaringan perikondrium mengalami infeksi atau peradangan, suplai nutrisi ke tulang rawan akan terganggu.
Akibatnya, tulang rawan telinga menjadi rentan mengalami kerusakan, bahkan kematian jaringan. Inilah yang menyebabkan perikondritis berisiko menimbulkan perubahan bentuk telinga secara permanen. Kondisi ini umumnya menyerang bagian atas daun telinga yang kaya akan tulang rawan, sementara cuping telinga yang tidak mengandung tulang rawan biasanya tidak terlibat.
Perikondritis dapat menyerang siapa saja, tetapi risikonya meningkat pada orang yang sering mengalami trauma pada telinga atau memiliki kondisi medis tertentu yang memengaruhi sistem imun.
Penyebab Perikondritis
Penyebab utama perikondritis adalah infeksi bakteri, terutama bakteri Pseudomonas aeruginosa. Bakteri ini dikenal sebagai kuman yang cukup agresif dan sering menyebabkan infeksi pada jaringan tubuh yang lembap atau mengalami luka terbuka.
Salah satu faktor pemicu paling umum terjadinya perikondritis adalah tindik telinga yang menembus tulang rawan, khususnya pada bagian atas daun telinga. Prosedur tindik yang tidak dilakukan secara steril dapat membuka jalan bagi bakteri untuk masuk ke jaringan perikondrium. Selain itu, proses penyembuhan tulang rawan cenderung lebih lambat dibandingkan jaringan kulit biasa, sehingga risiko infeksi menjadi lebih tinggi.
Selain tindik telinga, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko perikondritis, antara lain gigitan serangga pada daun telinga yang menimbulkan luka dan infeksi. Cedera saat berolahraga, seperti tinju atau olahraga kontak fisik lainnya, juga dapat menyebabkan trauma berulang pada telinga yang memicu peradangan. Cedera akibat tindakan operasi pada telinga, baik operasi medis maupun kosmetik, turut menjadi faktor risiko jika perawatan pascaoperasi tidak optimal.
Luka bakar pada daun telinga, baik akibat panas, bahan kimia, maupun paparan sinar matahari berlebihan, juga dapat merusak jaringan perikondrium dan memudahkan infeksi. Selain itu, infeksi telinga luar atau otitis eksterna yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebar hingga ke jaringan perikondrium.
Dalam beberapa kasus, perikondritis juga dapat dipicu oleh penyakit autoimun, seperti granulomatosis dengan poliangitis. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sehat, termasuk perikondrium, sehingga menimbulkan peradangan kronis.
Faktor Risiko Perikondritis
Tidak semua orang memiliki risiko yang sama untuk mengalami perikondritis. Beberapa kelompok lebih rentan, terutama penderita diabetes yang kadar gula darahnya tidak terkontrol. Kondisi ini dapat menurunkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan memperlambat proses penyembuhan luka.
Selain itu, orang dengan sistem imun lemah, seperti penderita HIV/AIDS, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, atau individu yang rutin mengonsumsi obat imunosupresan, juga memiliki risiko lebih tinggi. Kebiasaan merawat telinga yang kurang higienis, seperti sering menyentuh atau menggaruk telinga dengan tangan kotor, dapat memperbesar peluang bakteri masuk ke jaringan telinga.
Gejala Perikondritis
Gejala perikondritis umumnya muncul secara bertahap dan dapat memburuk jika tidak segera diobati. Gejala awal yang paling sering dirasakan adalah nyeri pada daun telinga. Nyeri ini biasanya terasa semakin intens saat telinga disentuh atau ditekan.
Selain nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada daun telinga juga menjadi tanda khas perikondritis. Bagian telinga yang terinfeksi dapat terasa hangat saat disentuh, menandakan adanya peradangan aktif. Pada tahap ini, infeksi masih tergolong ringan hingga sedang.
Pada kasus perikondritis yang lebih parah, gejala dapat berkembang menjadi demam sebagai respons tubuh terhadap infeksi. Telinga juga dapat mengeluarkan nanah, menandakan adanya abses atau kumpulan cairan infeksi di jaringan perikondrium. Jika kondisi ini dibiarkan, struktur tulang rawan telinga bisa rusak dan menyebabkan perubahan bentuk telinga secara permanen.
Sementara itu, pada perikondritis yang bersifat kambuh-kambuhan atau kronis, gejala yang muncul bisa lebih beragam. Daun telinga dapat terlihat lunglai atau floppy ear akibat melemahnya struktur tulang rawan. Beberapa penderita juga mengalami penurunan pendengaran secara mendadak, vertigo, serta tinnitus atau dengingan di telinga.
Gangguan keseimbangan dan keluarnya cairan dari telinga juga dapat terjadi, terutama jika infeksi menyebar ke bagian telinga lainnya. Dalam beberapa kasus, perikondritis kronis dapat disertai infeksi telinga tengah yang memperburuk kondisi pendengaran.
Diagnosis Perikondritis
Diagnosis perikondritis umumnya dapat ditegakkan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik oleh dokter. Dokter akan menanyakan keluhan yang dirasakan, riwayat cedera atau tindik telinga, serta kondisi kesehatan secara umum. Pemeriksaan visual pada daun telinga biasanya sudah cukup untuk mengenali tanda-tanda khas perikondritis.
Namun, jika keluhan perikondritis terjadi berulang atau dicurigai berkaitan dengan penyakit autoimun, dokter dapat merujuk pasien ke dokter spesialis lain, seperti dokter ahli reumatologi. Pemeriksaan tambahan, termasuk tes darah atau pemeriksaan penunjang lainnya, mungkin diperlukan untuk memastikan penyebab yang mendasari perikondritis.
Pengobatan Perikondritis
Pengobatan perikondritis perlu disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan gejalanya. Penanganan yang tepat sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius, termasuk kerusakan permanen pada telinga.
Antibiotik
Antibiotik merupakan terapi utama untuk mengatasi perikondritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Dokter akan meresepkan antibiotik yang efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk obat minum atau obat oles, tergantung pada tingkat keparahan infeksi.
Pada kasus yang lebih berat, antibiotik suntik mungkin diperlukan agar efeknya lebih cepat dan optimal. Pasien diwajibkan mengonsumsi antibiotik sesuai dosis dan menghabiskannya sampai tuntas, meskipun gejala sudah membaik, untuk memastikan bakteri benar-benar musnah.
Steroid
Jika perikondritis dipicu oleh penyakit autoimun, dokter dapat meresepkan obat kortikosteroid seperti prednison. Steroid bekerja dengan menekan respons sistem kekebalan tubuh yang berlebihan, sehingga peradangan pada perikondrium dapat berkurang. Penggunaan steroid harus diawasi ketat oleh dokter karena berpotensi menimbulkan efek samping jika digunakan dalam jangka panjang.
Insisi dan Drainase
Apabila terdapat abses atau kumpulan nanah pada daun telinga, tindakan insisi dan drainase biasanya diperlukan. Prosedur ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil pada area yang terinfeksi untuk mengeluarkan nanah. Tindakan ini bertujuan mengurangi tekanan, mempercepat penyembuhan, dan mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
Operasi
Pada kasus perikondritis yang sudah menyebabkan perubahan bentuk telinga atau cauliflower ear, dokter akan merekomendasikan tindakan operasi. Operasi plastik dilakukan untuk memperbaiki bentuk telinga agar kembali mendekati kondisi normal. Dalam situasi ini, pasien biasanya dirujuk ke dokter bedah plastik yang berpengalaman.
Pencegahan Perikondritis
Perikondritis dapat menjadi kondisi yang serius meskipun awalnya tampak sepele. Oleh karena itu, pencegahan memegang peranan penting. Menjaga kebersihan dan kesehatan daun telinga merupakan langkah dasar yang tidak boleh diabaikan.
Hindari melakukan tindik pada tulang rawan telinga, terutama jika prosedurnya tidak dilakukan secara steril. Jika tetap ingin melakukan tindik, pastikan dilakukan oleh tenaga profesional dengan alat yang bersih dan teknik yang aman. Selain itu, rawat luka tindik dengan benar hingga benar-benar sembuh.
Jika mengalami cedera pada daun telinga, sekecil apa pun, segera periksakan diri ke dokter THT. Penanganan dini dapat mencegah infeksi berkembang menjadi perikondritis. Bagi penderita diabetes atau orang dengan daya tahan tubuh lemah, kontrol kondisi kesehatan secara rutin juga sangat dianjurkan untuk menurunkan risiko infeksi.
Kesimpulan
Perikondritis adalah infeksi serius pada jaringan di sekitar tulang rawan telinga yang tidak boleh dianggap remeh. Penyebab utamanya adalah infeksi bakteri, terutama akibat tindik tulang rawan telinga, cedera, atau kondisi medis tertentu. Gejalanya dapat berupa nyeri, kemerahan, pembengkakan, hingga perubahan bentuk telinga jika tidak ditangani dengan baik.
Dengan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai, perikondritis dapat disembuhkan dan komplikasi dapat dicegah. Oleh karena itu, mengenali penyebab, gejala, serta cara mengatasi perikondritis sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan telinga dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Jika Anda menghadapi kesulitan pendengaran, kami sebagai pusat alat bantu dengar telah siap memberikan solusi yang optimal untuk Anda. Di Brilliant Hearing, kami menawarkan beragam perangkat pendengaran berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau, seperti Signia Intuis, Audio Service, dan masih banyak lagi. Langkah pertama dalam menjaga kesehatan pendengaran Anda adalah mengunjungi situs web kami dan memilih dari berbagai pilihan terbaik yang kami sediakan.
Baca Juga: Penyakit Telinga Hiperakusis: Pengertian dan Penanganannya





